Lewati ke konten
Barokas
← Semua panduan

Cara membuat laporan keuangan masjid yang mudah diperiksa

26 Oktober 2026 · 5 menit baca

Laporan keuangan masjid yang baik bukan yang paling tebal, melainkan yang setiap angkanya bisa ditelusuri ke bukti. Berikut lima kebiasaan yang bisa langsung dipraktikkan.

1. Pisahkan dana sejak pencatatan

Uang di kas masjid punya aturan yang berbeda-beda. Catat setiap penerimaan ke dananya masing-masing:

Dana Contoh sumber Boleh dipakai untuk
Zakat Zakat fitrah, zakat mal 8 golongan penerima zakat
Infak terikat Infak renovasi, santunan yatim Hanya program yang dituju pemberi
Infak umum Kotak Jumat Operasional dan program masjid
Wakaf Wakaf uang, tanah Pokok tetap utuh; hasilnya disalurkan
Operasional Sewa aula, parkir Sesuai kebijakan pengurus

Bila semua uang masuk ke satu kolom "kas", dana zakat bisa terpakai untuk listrik tanpa disadari.

2. Simpan bukti untuk setiap transaksi

Nota, kuitansi, atau foto struk disimpan bersama catatannya, bukan di galeri HP atau grup WhatsApp. Untuk kotak amal, catat siapa saja yang menghitung - idealnya minimal dua pengurus.

3. Rekap mingguan per dana

Setiap pekan, susun empat angka untuk setiap dana:

  • Saldo awal
  • Penerimaan
  • Pengeluaran
  • Saldo akhir

Saldo akhir pekan ini menjadi saldo awal pekan berikutnya. Bila tidak cocok dengan uang yang ada, cari selisihnya saat itu juga, jangan ditunda.

4. Tutup buku setiap bulan

Di akhir bulan, pastikan tidak ada catatan yang menggantung, lalu "kunci" bulan itu. Kesalahan yang ditemukan kemudian diperbaiki dengan catatan koreksi di bulan berjalan - bukan dengan menghapus atau menimpa catatan lama.

5. Gunakan format standar bila diperlukan

Untuk yayasan, UPZ, atau masjid yang diaudit, laporan standar entitas nonlaba (ISAK 335) dan laporan perubahan dana zakat (PSAK 409) memudahkan pemeriksa. Kuncinya sama: dana dipisahkan sejak awal.

Panduan lainnya

Lihat semua
Tanya via WhatsApp